Blue Film : Boleh atau Dilarang ?


Blue Film atau dalam bahasa Indonesianya Film Biru atau biasa disebut Film Dewasa atau Film Porno adalah film yang dikategorikan mengandung unsur yang mengeksploitasi hubungan seksual. Film porno merupakan sesuatu yang tabu untuk diperbincangkan di beberapa kalangan terutama di dunia bagian timur. Bagi beberapa orang, muncul anggapan bahwa untuk mengetahui cara melakukan “kegiatan suami-istri” ini harus dengan cara menonoton blue film. Apakah menyaksikan film seperti itu diperbolehkan atau dilarang? banyak pro dan kontra dalam menanggapi isyu ini. Apa faktor yang mempengaruhi pendapat pro dan konta tersebut ? Lantas, apakah melihat blue film memang diperbolehkan atau justru sangat dilarang keras? Hal inilah yang menjadi tolok ukur penulis hingga mengangkat tema Bolehkah menonton blue film?



1.      Pembahasan
a.      Blue fim dipandang dari sudut pandang agama
            Pornografi memberi makan pada “keinginan mata” dan “keinginan daging” yang tidak akan pernah terpuaskan. Pornografi hanya akan membuat ‘penontonnya’ minta tambah, tambah, dan tambah lagi. Dengan mudah, pornografi memperbudak orang akan nafsunya dan membuka pintu terhadap segala jenis kejahatan seperti kemarahan, penyiksaaan, kekerasan, kebohongan, iri hati, dan keegoisan. Kekuatan tersembunyi dibalik pornografi akan menunjukkan dirinya pada saat orang yang sudah terlibat berusaha menghentikan kebiasaannya. Tentunya pornografi bertolak belakang dari kehidupan bermoral, beretika dan beragama.
b.      Blue film ditinjau dari segi kesehatan
Dengan menonton adegan syur dalam video porno memiliki peran penting dalam kesuburan pria. Salah satunya, agar bisa membuang cairan sperma yang tidak sehat dalam tubuhnya. Metode ini bisa merangsang produksi hormon pria yang berefek meningkatkan. Tak hanya itu, manfaat lain dari menonton adegan dalam film porno bahkan bisa membantu banyak pria memperbaiki kehidupan seks mereka dengan belajar keterampilan baru.
Namun, meski ada manfaatnya bukan berarti kecanduan menonton film porno tidak menyimpan bahaya. Pornografi membuat seseorang terpicu untuk lebih suka melayani diri sendiri dibanding orang lain. Masturbasi/onani adalah contohnya. Ini adalah tindakan pemenuhan nafsu pribadi yang bisa membuat seseorang sulit menerima dan membagi cinta yang sebenarnya pada orang lain. Pornografi biasanya membuat orang kecanduan masturbasi/onani. Dalam banyak kasus, pornografi membuat seseorang kehilangan daya kerjanya. Yang tadinya aktif dan kreatif bisa menjadi tidak fokus dalam pekerjaan.

(dikutip dari : http://blog.unnes.ac.id/khabi/2010/12/31/dampak-positif-menonton-film-porno)
c.       Blue film ditilik dari kacamata hokum negara
Dengan sering melihat situs porno atau membeli film/majalah porno, orang-orang tersebut mendukung perkembangan industri pornografi yang biasanya dikelola oleh “kejahatan terorganisir” yang mencari dana dengan cara haram.
d.      Blue film dari pandangan psikologi
Pornografi membuat cara berpikir seseorang menjadi penuh dengan seks semata. Pikiran seks akan menguasai alam bawah sadar mereka. Gambar berbau seks akan melekat pada otak mereka, sehingga pada saat seseorang memutuskan untuk berhenti melihat pornografi-pun, gambar-gambar yang pernah ia lihat dimasa lalu akan bertahan hingga beberapa tahun bahkan sampai selama-lamanya.
Pornografi akan membawa seseorang pada konsekuensi spiritual yang serius. Tekanan dan kebingungan akan memenuhi hidupnya. Pornografi membawa kekuatan jahat yang akan mengontrol dan mendominasi pemirsanya.
Dampak negatif lainnya, pria yang ketagihan menonton film porno, dapat merasa sangat kecewa dengan kemampuannya seksual mereka sendiri. Mereka cenderung membandingkan performa seksualnya dengan aktor film porno yang punya kemampuan bercintanya hebat.
(dikutip dari : http://aliongz.wordpress.com/2010/06/27/dampak-negatif-menonton-video-porno)



2.      Kesimpulan

Dari pembahasan dalam isyu ini, kesimpulan yang dapat diambil ialah :

1.      Menonton film porno pasti berawal dari satu rasa, yakni rasa penasaran. Inilah faktor yang terutama dan pertama pemicu seseorang ingin menonton blue film. Berawal dari publikasi yang ramai kemudian diliputi rasa penasaran dan ingin tahu, biasanya seseorang akan mencoba mencari tahu sesuatu hal yang dianggapnya baru dan menarik seperti nonton video porno. Kebanyakan dari rasa penasaran tersebut muncul karena pengaruh orang tua di masa kecil yang melarang menyaksikan adegan panas ini, padahal pemberian larangan terhadap anak tanpa adanya penjelasan mengenai larangan tersebut merupakan cara yang kurang tepat. Karena anak akan mencari tahu sendiri dari sumber yang bisa saja justru menjerumuskannya pada hal yang tidak baik. Mencegah lebih baik daripada mengobati.

2.      Banyak hal positif dari kebiasaan menyaksikan blue film. Namun lebih banyak dampak negatifnya. Oleh sebab itu sebisa mungkin hindarilah tontonan berlabel “blue film”.